BOGOR - Bupati Bogor sangat memuji langkah Gubernur Jokowi yang mau melirik wilayah di hulu Sungai Ciliwung sebagai penanggulangan banjir di Ibu Kota. Padahal, permasalahan banjir di Jakarta sudah teridentifikasi sejak dulu.
"Cuma gubernur-gubernur Jakarta sebelumnya enggak mau menyentuh persoalan dasarnya. Nah, datanglah Pak Jokowi yang mau ambil risikonya," ujar Rachmat Yasin, dalam sambutannya pada acara penanaman pohon, di perkebunan teh ciliwung, Desa Tugu Selatan, Bogor, Selasa (4/2).
"Risikonya apa? Ya, kalau mau urusi banjir Jakarta, ya, harusnya urusi juga daerah-daerah hulu dan penyangga. Cuma Pak Jokowi yang mau ambil risiko ini," kata Rachmat.
Menurut Rachmat Yasin, Pemprov DKI Jakarta kepemimpinan Jokowi telah membantu Pemkab Bogor memperbaiki kualitas daerah hulu aliran sungai. Sebab buruknya wilayah hulu sangat berpengaruh terhadap parahnya banjir di Jakarta.
Ada beberapa langkah yang ditempuh Pemprov DKI Jakarta, antara lain memberikan dana kepada Pemkab Bogor untuk membantu membongkar vila-vila yang melanggar, membantu penanaman pohon, membantu pembebasan lahan waduk Megamendung dan waduk Sukamahi, serta bantuan peralatan normalisasi.
"Tinggal kita melaksanakan program kultural, yaitu tidak boleh menghuni bantaran Ciliwung, tidak boleh buang sampah dan warga Bogor juga harus sadar, Ciliwung terkait dengan warga yang ada di hilir. Kita sudah sosialisasikan hal itu,"terang Yasin.
Untuk itu, Pemkab Bogor juga melangkah lebih cepat lagi dalam merealisasikan semua program yang sudah direncanakan. Dalam waktu dekat sebanyak 31 bangunan vila di kawasan Puncak Bogor, segera di bongkar. Pertengahan Febuari 2014, bangunan yang berada di jalur hijau atau berdiri tidak pada tempatnya itu harus rata dengan tanah.
Bangunan tersebuta adalah bagian dari 800 bangunan bermasalah yang ada di wilayah perbatasan Bogor-Cianjur itu. Sepanjang 2014, Pemkab Bogor menargetkan sebanyak 400 bangunan yang terindentifikasi liar akan dibongkar. (bsr/zk)


